Cerita-cerita Slowly
Persahabatan yang Hanya Bisa Ditemukan di Slowly
Aku bertemu seseorang dari Amerika Serikat—sekarang seorang sahabat yang sudah bersamaku lebih dari dua tahun. Dia memiliki jiwa yang indah, tulus tanpa berpura-pura, dan dia mengajariku untuk kembali percaya pada diriku sendiri.
Pada akhirnya, dalam momen-momen yang terasa sepanjang seumur hidup itu, dia tiba di hadapanku, aku memeluknya dan menyerahkan suratnya.
Kami mulai berbicara sekitar 5 atau mungkin sekarang sudah 6 tahun yang lalu, dan baru 2 minggu yang lalu saya terbang untuk bertemu dengannya secara langsung untuk pertama kalinya.
Seiring waktu, surat-surat itu menjadi lebih panjang, lebih mendalam, saat kami menemukan minat yang sama seperti puisi, perjalanan, dan menemukan makna dalam detail kecil kehidupan.
Ella dan Jessica bertemu melalui Slowly saat berusia 15 tahun. Setelah tiga tahun saling bertukar surat, pada usia 18 tahun, mereka menempuh perjalanan sejauh 3.700 mil untuk bertemu langsung—dan sekarang mereka merencanakan pertemuan berikutnya di tahun 2026.
I can describe it as a meditative experience: I feel fully present in the moment and I forget about the world as I keep typing.
The act of correspondence where you share a bit about yourself can make you feel a smidge vulnerable at first, but if you give it some time, it will pay off.
Saya merasa sangat kesepian, dan disitulah Slowly muncul.
To conclude, Slowly is a lifesaver. I don't know where my mental health would be without it.
Kami berbicara dengan mudah di dunia nyata seperti di aplikasi, berjalan-jalan di mal, dan makan pencuci mulut di Dippin’ Dots...
It left me feeling so uninspired to reach out to anyone else, until – Just when I least expected it, I had an incoming letter from Iran.
He’s halfway across the world and I feel closer to him than most people.